Sabtu, 08 April 2017

Resume 3_Motivasi


                         MOTIVASI, PENGAJARAN, DAN PEMBELAJARAN
Apa itu motivasi,,,,,,??
Ketika seorang ibu hendak melahirkan bayinya, maka ia akan berusaha sekuat mungkin untuk mengeluarkan bayinya dari dalam tubuhnya, demi memberikan kehidupan baru bagi si anak, seorang ibu bahkan rela mempertaruhkan nyawanya untuk itu,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Ketika seorang anak mengeluh kepada orangtuanya karena uang kuliah yang belum dibayarkan, maka orangtua akan berusaha sekuat  tenaga untuk melunasi uang kuliah anaknya tersebut dan bahkan bagi  mereka yang tidak mampu  secara ekonomi, akan bekerja dengan sangat  keras tanpa mempedulikan panasnya matahari, dan dinginnya hujan, dan bahkan harus menahan lapar, hanya agar masa depan si anak lebih baik dari mereka,,,,,,,,,,
                Ketika kita melihat kesedihan orangtua kita, saat kita dalam keadaan sakit, maka kita akan berusaha untuk sembuh dengan mencoba berbagai pengobatan dan berdoa dengan keyakinan yang teguh, agar orang yang kita cintai tidak bersedih dan menangis atas keadaan kita,,,,,,,,,,,,,,
                Ketika kita melihat idola kita melakukan sesuatu yang begitu membanggakan bagi kita, dengan segera  kita akan berusaha meniru tindakan seperti yang dilakukan oleh idola kita,,,,,,
                Ketika seorang atlet mengikuti ajang kompetisi di Negara asing, maka ia akan berusaha dengan sangat keras untuk memcapai kemenangan, untuk mengharumkan negara asalnya dan juga agar orang-orang yang dicintainya  merasa bangga terhadapnya,,,.

Agar lebih jelasnya, saya menyiapkan anda video singkat mengenai motivasi,,, simak yaaa....!!!!

                Jadi sekarang apakah motivasi itu menurut anda???
                Mungkin anda akan memberikan berbagai pendapat  mengenai defenisi  dari  motivasi, meski dengan berbeda cara pengungkapannya, namun pengertian dan tujuan dari motivasi itu sendiri pasti akan sama. Jadi, pengertian motivasi secara umum adalah proses yang membari semangat , arah, dan kegigihan perilaku .Artinya, perilaku yang termotivasi adalah perilaku  yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Sama seperti  semua contoh diatas, semua itu dapat  terjadi semata-mata karena adanya motivasi. Motivasi membuat seseorang yang tidak mampu, menjadi mampu untuk melakukan sesuatu hal yang bahkan diluar perkiraannya.  Ketika kita melihat contoh diatas, kita melihat bahwa setiap usaha yang dilakukan  memiliki tujuan tersendiri. 
Contoh lain yang dapat kita lihat saat ini adalah kisah hidup Andri Wongso, seorang motivator ternama saat ini, dia dapat meraih sukses seperti sekarang ini, bukan secara instan, dia mambutuhkan proses yang  cukup panjang dalam menggapai suksesnya saat ini, bukan karena pendidikan yang tinggi dan juga bukan  karena ekonomi yang memadai dia dapat sukses, kehidupannya bahkan sangat jauh dari keadaan itu, namun karena tekad yang kuat untuk mencapai kehidupan yang lebih baik (semangat), dia berusaha mengembangkan bakatnya dalam menciptakan kata-kata mutiara dalam sebuah kertas kartu, banyak kesulitan yang dia hadapi ketika hendak mempromosikan kartu buatannya ke berbagai perusahaan, namun usahanya terbilang nihil pada awalnya, karena tidak ada yang mau memproduksi kartu buatannya, hingga akhirnya ada suatu perusahaan yang mau memproduksinya, meski penuh dengan liku-liku yang merumitkan, akhirnya dia dapat menggapai kesuksesan yang sungguh luar biasa.  Tindakan Andri Wongso dilakukan dengan semangat, memiliki tujuan(terarah), dan gigih( bertahan lama) sampai dia mampu meraih kesuksesan  yang mungkin tidak pernah terpikir sebelumnya.
Demikian pula halnya dengan para murid, motivasi  murid dikelas berkaitan dengan alasan dibalik perilaku mereka dan sejauh mana perilaku mereka diberi semangat, punya arah dan dapat dipertahankan dalam jangka lama. Jika murid tidak berpakaian rapi, atau tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik di kelas, itu artinya bahwa murid kekurangan motivasi. Untuk itu para murid perlu diberi motivasi dalam menyelesaikan tugasnya, misalnya dengan memberikan point bagi setiap tugas yang akan dikerjakan,dan setiap point tersebut akhirnya akan dijumlahkan dan bagi murid yang memiliki point yang baik akan diberi hadiah, dengan cara tersebut para murid mungkin akan berlomba-lomba untuk mengerjakan tugasnya dengan lebih baik, si murid akan terus berjuang dan mengatasi rintangan yang ada, dengan demikian murid akan memiliki motivasi yang besar untuk menyelesaikan tugasnya.
Cara guru dalam memunculkan motivasi  bagi para murid mungkin berbeda-beda, namun  yang paling penting diperhatikan oleh setiap guru adalah selalu memberikan semangat dan pujian bagi setiap siswa tanpa melihat latar belakang kemampuannya dan dalam memberi pujian jangan bagi para murid janganlah terlalu berlebihan, agar tidak menimbulkan kesan pilih-pilih dari murid yang hanya akan membuat semangat bagi murid tertentu saja.
Perspektif tentang Motivasi
                Perspektif psikologis menjelaskan motivasi dengan cara yang berbeda berdasarkan perspektif yang berbeda pula. Untuk itu, berikut kita akan membahas empat perspektif  tersebut, yaitu;
1.       Perspektif Behavioral, menekankan imbalan dan hukuman eksternal sebagai kunci dalam menentukan motivasi murid.  Insentif adalah peristiwa atau stimuli positif ataupun negatif  yang dapat memotivasi perilaku murid. Pemberian insentif ini diharapkan dapat menambah minat atau kesenangan pada pelajaran, dan mengarahkan perhatian pada perilaku yang tepat dan menjauhkan mereka dari perilaku yang tidak  tepat.
Contoh  motivasi dalam perspektif behavioral,  yakni;  memberikan hadiah kepada siswa berupa pujian, atau memberikan tanda bintang kepada murid yang dapat menyelesaikan  tugasnya dengan baik.  Pada  intensif lainnya, siswa yang berhasil menggapai suatu prestasi yang baik dapat diberi penghargaan atau pengakuan pada murid lainnya, sehingga murid yang lain juga ikut termotivasi, misalnya dengan memamerkan karya yang mereka buat, memberikan sertifikat prestasi, mememberi kehormatan dengan mengumumkan prestasi mereka, dan lain sebagainya. Hal ini diharapkan dapat membuat siswa yang berprestasi dan yang belum memiliki suatu prestasi dapat  termotivasi untuk semakin mengembangkan kompetensi yang mereka miliki.
2.       Perspektif Humanistik, menekankan pada kapasitas murid untuk mengembangkan kepribadian, serta kebebasan untuk memilih nasib dan kualitas positif mereka , misalnya peka terhadap orang lain yang ada di lingkungannya. Perspektif  humanistik  lebih mengutamakan kepuasan terhadap pemenuhan  kebutuhan dasar sebelum memenuhi kebutuhan  yang lebih tinggi, yang bisa dikatakan hampir berkaitan dengan pandangan Abraham Maslow.   Menurut hierarki  kebutuhan Abraham Maslow, kebutuhan individu harus dipuaskan dalam urutan seperti berikut;
v  Fisiologis ; rasa lapar, haus tidur.
v  Keamanan ; bertahan hidup( seperti perlindungan dari perang dan kejahatan)
v  Cinta dan rasa memiliki ; meliputi keamanan, kasih sayang, dan perhatian dari orang lain.
v  Harga diri; yakni menghargai diri sendiri.
v  Aktualisasi diri; yaitu realisasi potensi diri ( hanya sebagian orang saja yang dapat mencapainya).
Namun perlu diperhatikan bahwa pandangan Maslow ini belum sepenuhnya benar, karena setiap orang memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda-beda menurut keadaan masing-masing, misalnya ada orang yang lebih mengutamakan kebutuhan  kognitif meskipun dari antara  mereka belum merasakan cinta dan kasih sayang, dan sebaliknya.
                Contoh motivasi dalam perspektif humanistik  adalah; Ketika seorang  murid  menemui masalah dalam proses belajar mereka, maka beberapa diantaranya mungkin akan berusaha sendiri untuk memecahkan masalah tersebut tampak meminta bantuan dari orang lain, tujuannya agar orang tidak menganggap rendah kempetensinya, atau utamanya untuk menjaga harga dirinya di depan murid yang lain.
3.       Perspektif Kognitif,  dimana pemikiran murid sendirilah yang akan memotivasi mereka.  Minat ini berfokus pada ide-ide  seperti motivasi internal murid untuk mencapai sesuatu, atribusi mereka (persepsi tentang sebab-sebab kesuksesan dan kegagalan, terutama persepsi bahwa  usaha adalah faktor penting dalam prestasi), dan keyakinan bahwa mereka dapat mengontrol lingkungan mereka  secara efektif. Perspektif  ini juga menekankannarti penting dari penentuan tujuan, perencanaan dan monitoring kemajuan menuju suatu kemajuan (Schunk & Ertmer,2000; Zimmerman & Schunk, 2001).Dalam perspektif ini, seorang murid  diberi kesempatan  dan tanggung jawab untuk mengontrol hasil prestasi mereka sendiri.
Perspektif  ini sesuai dengan gagasan  R.W. White(1959), yang mengusulkan konsep motivasi kompetensi, yaitu ide bahwa orang termotivasi untuk menghadapi lingkungan mereka secara efektif, menguasai dunia mereka, dan memproses informasi secara efisien, White mengatakan  bahwa orang melakukan hal tersebut bukan semata hanya karena factor biologis saja, namun lebih kepada adanya motivasi internal untuk berinteraksi dengan lingkungan secara efektif.
4.       Perspektif  Sosial, adanya kebutuhan afiliasi dan keterhubungan adalah motif  untuk berhubungan  dengan orang lain secara aman.  Kebutuhan afiliasi  atau keterhubungan adalah motif untuk berhubungan dengan orang lain secara aman. Dimana  hal ini membutuhkan pembentukan, pemeliharaan, dan pemulihan hubungan personal yang hangat dan akrab. Kebutuhan afiliasi murid tercermin dari motivasi mereka untuk menghabiskan waktu bersama teman, kawan dekat, keterikatan mereka dengan orang tua, dan keinginan untuk menjalin hubungan positif dengan  guru. Karena murid yang memiliki hubungan yang penuh perhatian dan dukungan biasanya memiliki sikap akademik yang positif dan  dan lebih senang bersekolah(Baker, 1999; Stipek, 2002).
Motivasi Untuk Meraih  Sesuatu
                Pada bagian ini  kita akan mulai dengan mengeksplorasi perbedaan krusikal antara motivasi  intrinsik (internal) dan motivasi ekstrinsik (eksternal) beserta dengan  proses penting dalam meraih sesuatu.
1.       Motivasi intrinsik adalah melakukan sesuatu  untuk mendapatkan  sesuatu yang lain (cara untuk ke tujuan). Motivasi intrinsic adalah motivasi internal untuk melakukan sesuatu  demi sesuatu itu sendiri ( tujuan itu sndiri). Secara keseluruhan , kebanyakan pakar merekomendasikan agar guru menciptakan atmosfer  kelas dimana murid dapat termotivasi secara intrinsic  untuk belajar. Salah satu pandangan dari motivasi intrinsic menekankan  karakteristik determinasi diri. Memberi murid beberapa pilihan dan memberi banyak kesempatan untuk tanggung jawab  personal akan meningkatkan motivasi intrinsik. Csikszentmihalyi menggunakan istilah  flow  untuk mendeskripsikan pengalaman hidup yang optimal, yang melibatkan penguasaan dan konsentrasi kuat dalam suatu aktivitas.  Flow paling mungkin terjadi di area dimana murid ditantang dan menganggap mereka mampu menghadapinya. Dalam beberapa situsi, hadiah dapat melemahkan kinerja. Ketika hadiah dipakai, hadiah itu harus mengandung informasi tentang penguasaan tugas, bukan sebagai control eksternal. Para pesiset telah menemukan bahwa saat murid naik tingkat dari SD ke SMP dan SMA, motivasi intrinsic mereka terus menurun , terutama selama SMP. Konsep kesesuaian lingkungan individu menimbulkan perhatian pada kekurang sesuaian antara minat remaja pada kemandirian dan control  sekolah yang semakin ketat, yang menyebabkan evalusi dan sikap negatif terhadap sekolah.
2.       Teori atribusi menyatakan bahwa individu termotivasi untuk menemukan sebab-sebab dari perilaku dalam rangka memahami perilaku. Weiner mengidentifikasikan  tiga dimensi atribusi kausal ; (a). lokus; (b). stabilitas; dan   (c).daya control . Kombinasi dari tiga dimensi ini akan menghasilkan penjelasan yang berbeda  tentang kegagalan dan kesuksesan. Orientasi penguasaan (mastery)  berfokus p[ada tugas bukan pada kemampuan, dan melibatkan sikap positif strategi berorientasi solusi. Orientasi helpless fokus pada kelemahan  personal, menghubungkan kesulitan dengan kekurangan kemampuan, dan menunjukkan sikap negative ( seperti rasa bosan dan cemas) . Orientasi  kenerja lebih memerhatikan hasil daripada proses pencapaiannya.
3.       Self-Efficacy (kecakapan diri) adalah  keyakinan bahwa seseorang dapat menguasai situasi dan memproduksi hasil positif. Bandura percaya bahwa  kecakapan diri adalah  factor penting yang memengaruhi prestasi murid. Schunk berpendapat bahwa kecakapan diri memengaruhi pilihan tuga soleh murid,  dan bahwa murid dengan kecakapan  yang rendah mungkin akan menghindari  banyak tugas pembelajaran, terutama yang menantang atau sulit. Strategi intruksional yang menekankan ‘’ Aku bisa melakukannya’’ akan sangat bermanfaat bagi murid. Guru dengan kecakapan diri yang rendah menjadi bingung oleh masalah di kelas. Menentukan tujuan yang spesifik , jangka pendek  dan menantang akan bermanfaat bagi kecakapan dan prestasi murid. Dweck dan Nicholls mendefinisikan tujuan dari segi fokus yang berhubungan dengan prestasi  langsung dan defenisi sukses.  Menjadi perencana yang baik berarti  mampu mengelola waktu secara efektif,  menentukan prioritas, dan mampu menata. Memberi kesempatan bagi murid untuk mengembangkan keahlian  manajemen waktu akan bermanfaat  bagi pembelajaran dan prestasi mereka. Monitoring diri adalah aspek utama dari pembelajaran dan prestasi.
4.       Kecemasan adalah perasaan takut yang samar dan tidak menyenangkan. Kecemasan yang tinggi dapat berasal dari ekspektasi orang tua yang tidak realistis. Kecemasan murid bertambah ketika mereka makin tua dan menghadapi banyak evaluasi, perbandingan sosial, dan kegagalan( bagi beberapa murid). Program kognitif yang mengganti pemikiran yang merugikan diri sendiri dengan pemikiran yang  konstruktif   dan positif akan lebih efektif  untuk meningkatkan prestasi ketimbang menggunakan  program relaksasi.
5.       Ekspektasi guru dapat sangat memengaruhi motivasi dan prestasi murid.
Hubungan dan Konteks Sosiokultural  dalam Menguatkan atau Melemahkan Sesuatu.
                Motif sosial adalah  kebutuhan dan keinginan yang dipelajari melalui pengalaman dengan dengan dunia sosial. Kebutuhan akan afiliasi atau keterhubungan melibatkan motif untuk merasa aman dalam  berhubungan dengan orang lain, Yakni dengan menjalin , memelihara, dan memulihkan hubungan yang hangat dengan personal.
                Dari segi penerimaan sosial,baik dari penerimaan guru maupun teman sebaya merupakan  hal penting. Konformitas teman sebaya sangat penting pada masa remaja awal , masa dimana dibutuhkan  keputusan penting tentang  apakah akan mengejar motif akademik atau sosial. Memahami peran orang tua dalam motivasi murid  membutuhkan pemahaman tentang karakteristik demografis (seperti level pendidikan, waktu kerja, dan struktur keluarga), ptaktik pengasuhan anak ( seperti penyediaan jumlah tantangan dan dukungan yang tepat), dan penyediaan pengalaman  spesifik di rumah( seperti penyediaan materi  bacaan). Teman sebaya dapat memengaruhi motivasi murid  melalui perbandingan sosial , kompetensi sosial,  pembelajaran teman sebaya ,mdan pengaruh kelompok teman sebaya. Riset menunjukkan  bahwa dukungan dan perhatian guru juga berpengaruh bagi prestasi anak. Satu aspek penting untuk menguatkan motivasi murid adalah mengajak orang tua menjadi mitra dalam pendidikan anaknya. Sehingga impian dari orang tua dan guru menjadi nyata yaitu menghasilkan anak yang kompetitif dan sukses.
                Selanjutnya , guru harus mengenali dan menghargai diversitas di dalam kelompok kultural dan harus membedakan antara pengaruh status sosioekonomi  dengan pengaruh etnis. Kualitas sekolah bagi banyak murid yang kurang mampu(miskin)  lebih rendah dibanding murid dari kelas menengah keatas. Perbedaan gender dalam prestasi  berkaitan dengan keyakinan dan nilai. Perhatian utama adalah mengenai perbedaan gender dalam interaksi guru dengan murid , kurikulum dan isi, pelecehan seksual, serta bias gender .
Rekomendasi  untuk  Membantu  Murid Berprestasi Rendah dan Sulit Dijangkau
                Murid yang lemah semangat merasa kurang percaya diri  dan kurang motivasi  untuk belajar. Ia mungkin murid dengan kemampuan rendah dan ekspektasi rendah  untuk sukses sehingga ia membutuhkan bantuan dan dukungan , tetapi dia juga perlu diingatkan bahwa kemajuan akan diakui sepanjang sudah dilakukan upaya yang nyata; murid dengan sindrom kegagalan( yang memiliki ekspektasi rendah untuk sukses dan mudah menyerah), yang mungkin akan mendapat manfaat dari metode Retraining kognitif , dan training strategi; dan murid yang termotivasi untuk melindungi harga diri dan menghindari kegagalan mungkin akan medapat manfaat dari aktivitas yang menarik , menentukan tujuan yang menantang tetapi dapat diraih, memperkuat hubungan antara harga diri dan usaha , memiliki keyakinan  positif terhadap  kemampuan mereka sendiri, dan hubungan guru-murid yang positif.
                Selain itu, strategi untuk mebantu murid yang tidak tertarik atau teralienasi  adalah membangun hubungan  yang positif dengan murid tersebut, membuat sekolah menjadi lebih menarik bagi mereka, strategi mengajar yang menyenangkan, dan mempertimbangkan penggunaan  mentor dari komunitas atau murid yang lebih tua sebagai orang pendukung bagi murid.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Inspirasi kehidupan Dina Masa remaja hanyalah tujuh tahun, begitu singkat, tetapi ketujuh tahun ini mempengaruhi enam puluh satu sisanya...